Media Dakwah, Cahaya Islam

Senin, 21 Maret 2016

Kisah Islami: Ketika Aku Melibatkan Allah Dalam Urusan Cintaku | Muslimah Wajih Baca!

Cahaya Tausiah - Perempuan ini tampil dalam pentas kehidupan dengan membawa sesuatu yang berbeda dari kebanyakan kaum hawa. Ketika banyak dari mereka yang menentukan kriteria suami yang tampan, mapan dan pintar, ia lebih memilih pilihan Allah yang didapati melalui senandung doa istikharah yang senantiasa dipanjatkannya.


http://www.muslimahcorner.com/wp-content/uploads/2015/03/kisah-cinta.jpg

Dia dikenal dengan wajah manis dengan hias dua lesung pipitnya, kesantunan perangai yang menjadi keanggunannya, ghirah berdakwah yang mempesona dan kesederhanaan dalam kesehariannya. Oleh karena itu, tak sedikit laki-laki tertarik padanya. Ada yang hanya sekadar menyampaikan perasaan cintanya, mengajaknya pacaran, ta’aruf, dan juga melamar. Akan tetapi dari sekian banyak kisah dalam perjalanan cintanya, ada satu kisah yang akan saya tuliskan di sini. Kisah cinta yang tak biasa.

Suatu hari ketika ia menginjak tahun kedua diperkuliahannya, lagi-lagi untuk kesekian kalinya ada seorang pria yang mendatangi tempat perempuan itu (baca : kos-kosan). Pria itu menjadikan pemilik kos sebagai perantara agar dia bisa berkenalan dengan perempuan tersebut. Pria itu adalah seorang dosen di universitas swasta yang akan melanjutkan pendidikan beasiswa S3 di Australia. Cinta itu hadir karena tempat tinggal mereka yang berdekatan, sehingga ia merasa yakin untuk menyatakan cintanya dan memberanikan diri untuk mulai berkenalan dengan perempuan itu.

Awalnya, perempuan itu ragu ketika pemilik kos mengabarkan kepadanya bahwa ada seorang pria yang ingin berkenalan dengannya. Akan tetapi setelah ia mengetahui bahwa pria itu adalah seorang muslim yang rajin ke masjid sehingga terbayang adanya sosok keshalihan. Selain itu, pria tersebut adalah seorang dosen yang akan melanjutkan studi S3 di Australia sehingga terbayang adanya sosok kecerdasan, akhirnya, dia menerima tawaran itu dan memutuskan ingin berkenalan dengan pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut.

Hari perkenalan pun tiba. Keduanya berkenalan dengan didampingi oleh pemilik kos. Mereka saling berkenalan satu sama lain sebagai sarana untuk memantapkan pilihan bagi si pria dan memantapkan jawaban bagi si perempuan. Pada perkenalan itu, ada tumbuh kemantapan hati dari si perempuan karena ternyata selain pintar dan shalih, pria itu juga tampan. Perkenalan itu dilanjutkan dengan saling tukar nomor HP. Kurang lebih, selama sebulan mereka melakukan proses perkenalan.

Sebulan kemudian, sang Pria meminta agar perempuan itu bisa menjawab lamarannya dalam waktu tiga hari dikarenakan pemberangkatannya menuju Australia sudah semakin dekat. Pria itu telah yakin akan pilihannya dan bersungguh-sungguh untuk menikahinya. Tampaknya si perempuan juga sudah memiliki jawaban. Dengan semua pertimbangan dan juga izin dari kedua orangtuanya, dia sudah mempunyai kecondongan untuk menerimanya. Menerima cinta pria tersebut untuk menikah dan membangun cinta bersama. Akan tetapi, perempuan itu tak lupa akan sabda sang Rasul yang diabadikan oleh Imam Bukhari tentang perintah shalat istikharah :

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah padaMu dengan ilmu–Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan–Mu, aku minta kepada–Mu dengan kemuliaan–Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya, Engkau Yang Maha Tahu sedangkan aku tidak mengetahui. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah jika engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, maka takdirkanlah (pria yang meminangku) untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui jika perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan dan akhir urursanku, maka palingkanlah ia dari ku dan palingkanlah aku darinya. Takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridho dengannya.”

Dia melibatkan Allah dalam prosesnya. Ia gantungkan jawaban kepada-Nya. Berharap keberkahan dan keridhaan mengiringi rumah tangganya.

Hari itu tiba. Hari di mana ia harus menjawab lamaran pria itu untuk lanjut atau tidaknya proses menuju pernikahan. Pagi itu, Ia sudah memiliki jawaban yang akan disampaikannya pada malam hari, yakni untuk menerima lamarannya. Akan tetapi ia tidak menyangka bahwa pagi itu merupakan hari di mana Allah benar-benar menunjukkan jawaban dari shalat istikharahnya. Ketika ia keluar rumah untuk mencari makan, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok seorang pria yang berpenampilan kaos polos dan bercelana pendek. Pria itu tidak asing lagi bagi perempuan itu karena malam ini ia akan menerima pria tersebut sebagai suaminya. Ya, pria itu adalah dosen yang melamar perempuan itu. Akan tetapi, dalam sekejap keinginan untuk menerima lamaran pria itu hilang. Seketika pemandangan pagi itu membuatnya berubah pikiran. Ketertarikan ia akan kepintaran, keshalihan (yang sebelumnya ia bayangkan) dan ketampanan pria itu hilang seketika ketika ia melihat aurat pria itu di tempat umum. Pemandangan yang biasa diremehkan oleh kaum lelaki pada umumnya itu dijadikan tolak ukur baik atau tidaknya seorang muslim di mata perempuan itu.

Dan pada akhirnya, kisah ini diakhiri dengan penolakan. Meski demikian, bukan berarti manisnya cinta tidak bisa kita kecup dalam kisah ini. Manisnya cinta dalam kisah ini terukir ketika seorang hamba melibatkan Allah yang Maha Mecintai (dengan shalat istikharah) dalam proses perjalanan mencari cinta. Dan juga, manisnya cinta akan terasa ketika kecintaan seorang hamba kepada Allah dan syariat-Nya melebihi dari apapun yang ada di dunia ini. Perempuan itu telah merasakan manisnya cinta, ia menjadikan ketidakacuhan seorang pria terhadap auratnya menjadi tolak ukur baik buruknya seorang pria. Karena, pria yang baik tidak akan meremehkan syariat dan perintah Allah sekecil apapun itu. (dakwatuna)

Allaahua’lam, semoga bermanfaat.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Kisah Islami: Ketika Aku Melibatkan Allah Dalam Urusan Cintaku | Muslimah Wajih Baca!

0 komentar:

Posting Komentar